lelaki masa lalumu itu,ditatapnya genangan hujan yang mengandung rasa semanis puisimenafasi cinta suci yang pernah sekering bumimenumbuhkan akar-akar do’a yang pernah seliar sepi
—firman nofeki
engkaulah arakan awan-awan yang menjatuhkan hujan kesejukanakulah yang senantiasa menyimpan rintiknyamengalirkannya kedalam anak-anak sungai jiwa yang tenang
Tak pernah ada yang salah dengan cinta. Ia mengisi sesuatu yang tidak kosong. Tapi yang terjadi di sini adalah asmara, yang mengosongkan sesuatu yang semula ceper. Dengan rindu. Belum tentu nafsu.
—Ayu Utami
seperti hujan ,katamu, rindu adalah gerimis yang melebat tiba-tiba. mengalirkan kamu kedalam anganku. selalu dan tiba-tiba.
Aku rindu hujan jatuh tiba-tiba, kekasihsebab setelah rintiknya, selalu ada pelangi yang melengkung indah antara hati-hati kita.
jika puisi tak jua mampu mewakilkan perasaanku padamu, kekasihbiarlah kuhantarkan dengan do’a-do’a yang kutompangkan lewat kereta Tuhan dimalam-malam butabiarlah kuwakilkan lewat sampan-sampan yang berlayar diatas genangan air mata munajat
hari ini saja. biarkan rindu bercerita kepadaku tentang suaramu yang waktu itu berbicara padaku. tentang aku yang selalu malu jika berhadapan denganmu. diam, tidak bisa berbicara lebih banyak lagi.
—bunga alfi
suatu hari jika aku tak lagi adamaka ikutilah iring-iringan angin yang mengantar kepergianku, Azzahrapadanya telah kutitip alamat kepulangan sebuah perjalanan tanpa muarajuga suara lengking pilu jiwa yang mendendam diburu mautdibelakang sudut kamar sepi, suatu hari
tak ada semesta tempat rinduku berlari selain hatimu,ningrentang cintamu seluas cakrawala, dimanapun aku berada, rinduku menjejak dibawahnya
Assalamu’alaikum rindusemoga Allah senantiasa meletakkan tangan pelindungNYA untuk menjagamu, dari kejahatan kesedihan yg senantiasa menyinggahimu.
yang terbaik dari mencintai adalah diinginkan. kemudian yang terindah adalah dirindukan.semuanya menggunakan kata kerja ‘di’, jadi pasti dilakukan dengan sengaja, dilakukan dengan kesadaran penuh dan sungguh-sungguh.seperti dirimu yang kucintai dengan kesengajaan…indah bukan?
—Dini Meditria
aku akan pergi ke kota paling rindu itu, ningtyaskota yg tidak memiliki gigil dan hujansebab angkasa dan langit-langitnya adalah bayanganmu
—
kematian yang ia buru kini lesap di matamu,direbahkan tubuhnya dikuburan dangkal jiwa kekasih, yang ia gali dengan tangan-tangan takdirnya sendiriia adalah musafir malang yang pernah mengistirahkan pengembaraan di negeri anganmudirahim hatimu,kekasihpernah dirambahnya ladang-ladang luka yang...
engkau laksana sajak yang tak kunjung selesai. dengan begitu saya tidak akan pernah meninggalkanmu
demih roh, hati dan cintaku yang ada dalam genggaman-NyaDia yang telah menyandingkan kesunyian dengan katamenyandingkan malam dengan gulitamenyandingkan rembulan dengan cahayasebab itu aku tak begitu heran, bila setiap memandangmugelap dan buta tercerai dari jiwasebab matamu,...
Nikmati nyanyian pagi sendu ini. Mari kembali ke masa yang hanya bisa kita kenang itu dengan menumpang rindu.
—Rohmatikal Maskur
rinduku padamu serupa pulau mungil dalam lingkaran amuk masal gelombang, sedang rindumu berkayuh kian jauh,sayangdari semenanjung hingga hulunya, tiada henti kulayarkan do’a-do’amoga ada angin cintamu mengembara, dan memungutnya serupa
bukan aku tak mencitaimutapi inilah caraku menjaga hati dan kitadari pada mendekapkan api jahanam keatas dadaku,lebih baik aku dibakar bara api rindu dalam kesabaran menunggumu, meski dalam waktu sejauh perjalan usiaku
Tuhan….di hujan ampunan tak henti kuburu api gemuruhMukupaku telinga di pintu kasihMumoga kudengar Kau mengetukbertamu ke bilik sepi sunyiku
Jangan kau ajari cara melupakanmu. Aku lebih tahu itu. Hari-hariku lebih fasih mengeja rasa itu..
—Tasaro G.K.
dan hujan memintaku menenggelamkanmu dalam penggalan-penggalan catatan yang sempat terasing dalam ingatanmenghanyutkan rindu yang kurakit dengan huruf-huruf dari sepenggal namapahamilah bahasa arusnya, kekasih, maka engkau akan memahamiku seutuhnya
Dikota paling rindu itu,Ningtyasmalam senantiasa menjatuhkan pejammu di mataku, mencuriku diam-diam dari mimpi, kemudian menidurkanku diatas bantalan lembut hati.kau perempuanku, jangan tutup pejammu aku takut pada bangun, yang kan membuatmu jatuh kedalam selaput rapuh kabut...
mungkin bila sampai masanya nantikupu-kupu rindu ini telah menemukan bunganya sendiriengkau bukan lagi mawar yang pantas mengakar di hatikusebab pernah tertusuk duri-durimumembuatku terus terbangun pada kenyataan tanpa dirimu
Sesaat lapar menjadi rinduseribu tahun pesonanya menyusupke danau kasihsesaat dahaga menakluk cintaseribu tahun arusnya mengalirdi lubuk rahsia.
—Shamsudin Othman
jika yg engkau miliki adalah cinta mati, maka hatiku adalah makam yg tepat untuk mengbadikan jasadnya
Telaga yang jernih tidak akan mencari timba. begitupun hati yang suci hanya menanti Sang Penimba cinta mengisi cawan-cawan hatinya dengan kesucian. sama-sama larut dalam kemurnian cinta ilahi, bertelaga syurgawi
kau masih saja nama yang ingin kupahat di tubuh hujan april yang begitu lebat ini sayangserupa jari-jari rindu mengukir luka begitu cepatdi sisa tubuh pertemuan yang semakin cacat
Rindu adalah selapis insafyang tumbuh dalam lukakudan cinta adalah jernih insanidalam telaga sepi sukmaku.
rindu adalah mahkota kebesaran yg kukenakan, berharap kamu dapat mengenaliku dari kejauhan.padamu, apa yg kusebut sebagai cinta tak lebih tegar dari setetes embun yg berhastrat meretaki bebatuan, tak lebih khusyuk dari do’a-do’a yg kuisyaratkan dalam...
percayalah dik, Allah akan mempersatukan hati dua insan yg mencintai dalam diam dan kesabaran diatas bahtera syurgawi
Tuhan yang menitiskan rasa cinta, teguklah ia hanya dari cawan-cawan kasihnyadari hulu hati kuapungkan doa-doamoga doa kita bersua di satu arus rasa yang sama.
kalau suatu hari kamu bersedih dan hatimu merasa bagai terluka, mungkin aku belum bisa menjadi penghibur sempurna bagimu. kesedihan pasti akan tetap berada di hati dan bergerak mempengaruhi otakmu. dan kalau kamu mengungkapkan bahwa diriku...
—wasiman waz
aku masih terus mengingatmu, dan membiarkan kenangan itu lesap menguap kedalam lapisan hari-hari.agar disetiap pagi, kenangan tentangmu kembali mengembun difikiranku. meluruhkan semua rasa itu, utuh dan putih
hanya pena yang setia menuntunmu pulang ke kota kertasku,Ningtyastempat huruf-huruf rindu sering tersesat, dan aku menyusunnya diam-diam menjadi rumah-rumah sajak berdinding jarak dan jejak.lelapkanlah gigilmu didalamnya! sementara kunyalakan perapian untukmu dari qolbi yang terbakar
aku merinduimu dari dasar andai-andai dengan terpaan angan paling gilaaku mencintaimu dari sudut terdalam ego yang entah kapan akan binasa
hanya dia yang berasal dari tulang rusukku lah kelak yg bisa merawat hati ini. sebab dialah yang pernah bersemayam dekat dengan detaknya.
penalah yang akan menuntunmu menjadi pengembara dilautan aksara, yg kubentang dari darah jemari-jemari hati yang terlukadi depanmu kusediakan dermaga dari pasir putih kata-katatempat kau bisa mengenangku lewat senja yangg telah kuwarna dg warna sepasang mataku...
dulu aku pernah memiliiki satu rindu utuh dalam dirikuyang separuhnya kini kusimpan dalam puisiseparuhnya lagi kusimpan di hati Tuhanku
disetiap senja, aku ingin melukis langit dengan warna mata kita : warna merah kerinduan
di potret sajakku kutemukan muka-muka menuamerekalah waktu-waktu penantiankudi kamar sajakku ada engkau yang terjaga menembus rabunkudi sungai sajakku ada muara yang tenangmelautkan doa-doaada riak yang pasang, menghanyutkan sejuta kita
Do Not Sell My Personal Information
Exercise your consumer rights by contacting us below Privacy Policy
[email protected]
Personalized advertisements
Turning this off will opt you out of personalized advertisements delivered from Google on this website.