Aku rindu hujan jatuh tiba-tiba, kekasihsebab setelah rintiknya, selalu ada pelangi yang melengkung indah antara hati-hati kita.
—firman nofeki
engkaulah arakan awan-awan yang menjatuhkan hujan kesejukanakulah yang senantiasa menyimpan rintiknyamengalirkannya kedalam anak-anak sungai jiwa yang tenang
engkau laksana sajak yang tak kunjung selesai. dengan begitu saya tidak akan pernah meninggalkanmu
dikota kertas yang pudar ini ningtyas, kaulah perempuan yang kini ikut mencoret matahari sajakkumenadah hujan kata di langit-langitnya yang menikung tanpa hujungmenghanyutkan sejuta aku, dalam sungai langsa jiwamu
aku akan pergi ke kota paling rindu itu, ningtyaskota yg tidak memiliki gigil dan hujansebab angkasa dan langit-langitnya adalah bayanganmu
—
…Aku ingin kau tahu, diam-diam, aku selalu menitipkan harapan yang sama ke dalam beribu-ribu rintik hujan: aku ingin hari depanku selalu bersamamu…
—Yoana Dianika
Tuhan….di hujan ampunan tak henti kuburu api gemuruhMukupaku telinga di pintu kasihMumoga kudengar Kau mengetukbertamu ke bilik sepi sunyiku
kau masih saja nama yang ingin kupahat di tubuh hujan april yang begitu lebat ini sayangserupa jari-jari rindu mengukir luka begitu cepatdi sisa tubuh pertemuan yang semakin cacat
cintaku setabah hujan di malam hari, tetap turun ke bumi meski tidak menjanjikan pelangi
lelaki masa lalumu itu,ditatapnya genangan hujan yang mengandung rasa semanis puisimenafasi cinta suci yang pernah sekering bumimenumbuhkan akar-akar do’a yang pernah seliar sepi
Do Not Sell My Personal Information
Exercise your consumer rights by contacting us below Privacy Policy
[email protected]
Personalized advertisements
Turning this off will opt you out of personalized advertisements delivered from Google on this website.