bukannya teknik bertanam yang merupakan faktor yang paling penting, melainkan lebih kepada pikiran petaninya.
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedintumblr
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
bukannya teknik bertanam yang merupakan faktor yang paling penting, melainkan lebih kepada pikiran petaninya.

-Masanobu Fukuoka

Related Quotes

Terkadang kelompok yang anti madzhab menggugat kita dengan pendapat sang pendiri madzhab atau para ulama dalam madzhab yang kita ikuti, seakan-akan mereka lebih konsisten dari kita dalam bermadzhab. Kaum Wahhabi ketika menggugat kita agar meninggalkan tahlilan dan selamatan tujuh hari selalu beralasan dengan pendapat al-Imam as-Syafi'i yang mengatakan bahawa hadiah pahala bacaan al-Qur'an tidak akan sampai kepada mayit, atau pendapat kitab I'anah al-Thalibin yang melarang acara selamatan tahlilan selama tujuh hari. Padahal selain al-Imam as-Syafi'i menyatakan sampai.Kita kadang menjadi bingung menyikapi mereka. Terkadang mereka menggugat kita karena bermadzhab, yang mereka anggap telah meninggalkan al-Qur'an dan Sunnah. Dan terkadang mereka menggugat kita dengan pendapat imam madzhab dan apra ulama madzhab. Padahal mereka sering menyuarakan anti madzhab.Pada dasarnya kelompok anti madzhab itu bermadzhab. Hanay saja madzhab mereka berbeda dengan madzhab mayoritas kaum Muslimin. Ketika mereka menyuarakan anti tawassul, maka sebenarnya mereka mengikut pendapat Ibn Taimiyah dan Ibn Abdil Wahhab al-Najdi. Sedangkan kaum Muslimin yang bertawassul, mengikuti Rasulullah SAW, para sahabat, seluruh ulama salaf dan ahli hadits.Ketika mereka menyuarakan shalat tarawih 11 raka'at, maka sebenarnya mereka mengikut pendapat Nashiruddin al-Albani, seorang tukang jam yang beralih profesi menjadi muhaddits tanpa bimbingan seorang guru, dengan belajar secara otodidak di perpustakaan. Sedangkan kaum Muslimin yang tarawih 23 raka'at, mengikuti Sayidina Umar, para sahabat dan seluruh ulama salaf yang saleh yang tidak diragukan keilmuannya.Ketika mereka menyuarakan anti madzhab, maka sebenarnya mereka mengikut Rasyid Ridha, Muhammad Abduh dan Ibn Abdil Wahhab. Sedangkan kaum Muslimin yang bermadzhab, mengikuti ulama salaf dan seluruh ahli hadits. Demikian pula ketika mereka menyuarakan anti bid'ah hasanah, makas ebenarnya mereka mengikuti madzhab Rasyid Ridha dan Ibn Abdil Wahhab al-Najid. Sedangkan kaum Muslimin yang berpendapat adanya bid'ah hasanah, mengikuti Rasulullah SAW, Khulafaur Rasyidin, para sahabat, ulama salaf dan hali hadits.

-Muhammad Idrus

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Bila satu negara baru lahir dan orang-orang yang sebelumnya tidak pernah punya apa-apa itu ditempatkan pada jabatan yang "basah", terdapatlah salah urus dan korupsi, bahkan pada kalangan atas. Baru-baru ini aku mengeluarkan ancaman hukuman mati untuk pengacau ekonomi. Seorang pemilik penggilingan padi membuat harga beras membumbung tinggi dengan menimbun enam ribu ton. Bila dia nanti ternyata bersalah, aku sendiri yang akan menandatangani perintah hukuman mati terhadapnya.Banyak dari para pengusaha kami menyimpan hartanya di bank luar negeri. Aku tahu hal itu. Tetapi selagi mereka bekerja membantu kami, bukan menentang kami, hak milik perorangan tidak akan dihapus sebagaimana di sejumlah negara sosialis lain. Sukarno dengan gembira membolehkan warga negaranya kaya. Beberapa orang kawanku sendiri adalah kapitalis-sosialis. Tetapi hal itu harus dibatasi. Mereka yang menghisap kekayaan negara dan menjadi patriot apabila sakunya berisi, akan ditembak mati. Undang-undang kami sekarang harus tegas, atau ekonomi kami tidak pernah beres.Di negara Barat kehidupan sangat menyenangkan. Orang bisa membeli gula, dasi bagus, barang-barang mewah seperti lipstik dan krim wajah. Di Timur terjadi kekurangan yang serius. Di negara-negara kapitalis orang dapat bergerak bebas. Di negara-negara sosialis apa yang disebut kebebasan tidak ada. Bahkan kelaparan masih sering terjadi. Ada pembatasan di setiap bidang, ini bukan karena sistem kami yang salah, melainkan karena kami masih dalam proses mewujudkan cita-cita.Menderita akan membuat kuat. Aku tidak menghendaki rakyatku menderita, tetapi kalau semua diperoleh dengan mudah, mereka pikir Bung Karno adalah Sinterklas. Mereka akan duduk saja menunggu Sukarno mengerjakan semua untuk mereka. Mungkin kalau aku memiliki kemampuan untuk memberikan kesenangan, aku tidak akan menjadi pemimpin yang baik. Aku harus memberi rakyatku makanan untuk jiwanya bukan hanya untuk perutnya. Seandainya aku memakai semua uang untuk membeli beras, mungkin aku akan dapat mengatasi kelaparan mereka. Tapi bila aku memiliki uang 5 dollar, aku akan mengeluarkan 2.50 dollar untuk membuat mereka kuat. Membesarkan suatu bangsa merupakan pekerjaan kompleks.Semangat suatu bangsa yang pernah tertindas tidak boleh disia-siakan. Di Kalimantan Barat sungainya tidak dapat di lewati, perhubungan tidak mungkin diadakan. Sebagian besar bahan makanannya diimpor. Ketika aku pertamakali berkunjung ke sana, tahukah engkau apa yang sangat mereka inginkan? Bukan bantuan teknis. Bukan pembangunan pertanian. Tapi sebuah fakultas hukum! Dan begitulah sekarang telah berdiri sebuah universitas di tengah-tengah rimb raya Kalimantan.Manusia tidak hanya hidup untuk makan. Meski gang-gang di Jakarta penuh lumpur dan jalanan masih kurang, aku memutuskan membangun gedung-gedung bertingkat, jembatan berbentuk daun semanggu, dan sebuah jalan raya "superhighway", Jakarta Bypass. Aku juga menamai kembali jalan-jalan dengan nama para pahlawan kami. Jalan Diponegoro, Jalan Thamrin, Jalan Cokroaminoto. Aku menganggao pengeluaran uang untuk simbol-simbol penting seperti itu tidak akan sia-sia. Aku harus membuat bangsa Indonesia bangga terhadap diri mereka. Mereka sudah terlalu lama kehilangan harga diri.Banyak orang memiliki wawasan picik dengan mentalitas warung kelontong menghitung-hitung pengeluaran itu dan menuduhku menghambur-hamburkan uang rakyat. Ini semua bukankah untuk keagunganku, tapi agar seluruh bangsaku dihargai seluruh dunia. Seluruh negeriku membeku ketia Asian Games 1962 akan diselenggarakan di ibukotanya. Kami lalu mendirikan stadion dengan atap melingkar yang tak ada duanya di dunia. Kota-kota di mancanegara memiliki stadion yang lebih besar, tetapi tak ada yang memiliki atap melingkar. Ya, memberantas kelaparan memang penting, tetapi memberi jiwa mereka yang telah tertindas dengan sesuatu yang dapat membangkitkan kebanggaan ini juga penting.

-Cindy Adams

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...
Aku sering menghabiskan waktuku sebelum tidur untuk memikirkan masa depan, tapi dengan usia setua ini, pikiranku sering terbang ke masa lalu. Dan aku memikirkan semua yang telah kami capai. Dengan gembira aku melayangkan pikiran pada kenyataan-kenyataan yang memuaskan, seperti harapan hidup orang Indonesia. Sekarang angka itu 55 tahun. Di zaman Belanda 35 tahun. Pada waktu sekarang jumlah dokter sudah mencapai angka 5000, ahli farmasi 500. Dan terdapat 4000 buah balai kesejahteraan ibu dan anak, yang sebelum ini tidak ada sama sekali. Sekarang 70 juta rakyat Indonesia bebas dari penyakit malaria, sedangkan dulu tiap tahunnya 30 juta harus menderita. Kami sekarang menghasilkan kina sebanyak 90 persen dari produksi dunia, yang berarti 20 persen melebihi produksi tahun 1950; semen, minyak kelapa sawit, pupuk, karet, dan minyak bumi, semua ini pun menunjukkan peningkatan sejak kemerdekaan. Produksi makanan bertambah dua kali lipat dan kami telah menghentikan impor ikan, dan ada keuntungan yang tetap dalam ekspor kayu dan hasil hutan. Tambahan lagi, seluruh kemajuan kami dalam ketrampilan kerja nampak luar biasa. Di zaman kolonial, seluruh perusahaan antar-pulau dikuasai Belanda. Sekarang kami mengembangkan armada dagang sendiri. Semua perkebunan seperti tembakau, teh, dan tebu ditambah lagi dengan perusahaan-perusahaan kopra dan bahan-bahan rempah yang dulunya 100 persen dikuasai Belanda, sekarang dijalankan sendiri oleh bangsa Indonesia.Di bidang militer, angkatan bersenjata kami adalah yang terbesaru di Asia Tenggara. Kemajuan di bidang pendidikan kami menduduki nomor satu. Perhatikan sekolah-sekolah menengah kami. Pada awalnya kami cuma memiliki 32 buah. Tapi kini berjumlah 2000. Ini menunjukkan kemajuan yang 60 kali lipat. Program kami sedemikian maju, sehingga menjadi contoh bagi negara-negara Asia lainnya. Di bidang sosial kamipun telah melangkah dengan pesat. Dengan emansipasi kaum perempuan, kami tidak hanya membanggakan tampilnya para menteri perempuan, melainkan juga lebih dari 100 hakim perempuan. Di samping itu ada juga program mendidik dari rumah ke rumah jutaan rakyat kampung mengenai cara membuat tungku sehingga asapnya keluar dan tidak mengumpul di dalam rumah yang menyebabkan kerusakan mata; bagaimana cara membuat kakus sehingga rakyat kampung yang sederhana pun belajar mengenai sanitasi; dan bagaimana membuat pondok bambu pakai jendela sehingga cahaya dan udara bersih dan kesehatan mengaliri hidup masyarakat. Tapi yang lebih membanggakan adalah kenyataan ketika India sekarang sedang berjuang untuk satu bahasa persatuan dan Tiongkok belum memiliki bahasa persatuan, rakyat Indonesia yang tersebar di 10.000 pulau, semua berbicara dalam bahasa Indonesia.

-Cindy Adams

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...